Vibe Coding Tanpa Baca Kode? Cepat di Awal, Berat di Belakang
2026-02-17 19:27:41Vibe Coding Perlu Batasan: UX Saja Tidak Cukup
Ada pola yang makin sering terlihat: kode dihasilkan AI, lalu diuji hanya dari perspektif pengguna—asal fitur terlihat jalan, dianggap selesai. Pendekatan ini memang terasa cepat di awal, tetapi berisiko tinggi di jangka menengah.
Masalah Intinya: Technical Debt Tidak Terlihat di Hari Pertama
Technical debt jarang langsung terasa saat demo awal. Dampaknya baru muncul ketika:
- fitur bertambah dan kode makin sulit dirawat,
- bug kecil mulai berantai ke modul lain,
- tim kesulitan melakukan perubahan tanpa memecah fungsi yang sudah ada.
Kenapa Ini Sering Terjadi?
- Pengguna non-teknis fokus ke output visual/fungsional yang terlihat.
- Kualitas struktur kode, error handling, dan arsitektur tidak dievaluasi.
- Tidak ada quality gate seperti code review, test, dan linting yang konsisten.
Yang Benar: Dua Perspektif Harus Jalan Bareng
- User perspective: alur pakai, UX, dan hasil bisnis harus benar.
- Engineering perspective: readability, maintainability, testing, dan keamanan harus lolos standar.
Jika hanya satu sisi yang dipakai, sistem jadi timpang: bagus dilihat, rapuh di dalam.
Checklist Anti-Boncos untuk Tim Vibe Coding
- Setiap fitur wajib punya acceptance test sederhana.
- Minimal 1 kali review kode sebelum merge/deploy.
- Pantau metrik debt: bug berulang, waktu fixing, dan kompleksitas perubahan.
- Refactor kecil berkala, jangan tunggu rusak total.
Penutup
Vibe coding tetap berguna untuk akselerasi. Tapi tanpa disiplin engineering, kecepatan awal akan dibayar mahal di belakang. Kunci yang sehat adalah: cepat membangun, tetap sadar utang teknis.