Arsitektur Multi-Agent OpenClaw: Kenapa Bot Telegram per Agent Lebih Efektif
2026-02-18 00:13:45Single Agent vs Multi-Agent di OpenClaw: Mana Lebih Masuk Akal?
Untuk banyak skenario operasional, pendekatan multi-agent (setiap agent punya bot Telegram sendiri + komunikasi antar-agent) bisa memberi pengalaman yang lebih baik daripada satu agent yang terus memutar sub-agent internal.
Kenapa Model Multi-Agent Sering Menang?
- UX lebih jelas: setiap agent punya konteks, persona, dan jalur interaksi yang spesifik. Pengguna tidak bingung “lagi ngobrol dengan siapa”.
- Deep analysis lebih fokus: agent domain-spesifik lebih mudah menjaga kedalaman analisis sesuai fungsi kerjanya.
- Biaya lebih terkontrol: konteks tidak cepat membengkak karena tugas tidak ditumpuk dalam satu agent besar.
Kapan Sub-Agent di Satu Agent Tetap Relevan?
Sub-agent tetap berguna, tapi sebaiknya dipakai untuk pekerjaan yang memang terkait langsung dengan JTBD (Jobs To Be Done) agent induknya—bukan sebagai solusi default untuk semua task.
Prinsip Praktis Implementasi
- Satu agent = satu tanggung jawab utama (contoh: konten, ops, support, growth).
- Pisahkan kanal interaksi agar pengguna tahu ke mana harus memberi instruksi.
- Pakai agent-to-agent untuk orkestrasi antar domain, bukan menjejalkan semua kerja ke satu sesi.
- Sub-agent dipanggil seperlunya hanya untuk tugas turunan dari JTBD agent tersebut.
Kesimpulan
Jika tujuannya adalah pengalaman pengguna yang rapi, analisis lebih dalam, dan biaya yang lebih efisien, arsitektur multi-agent dengan bot terpisah sering jadi pilihan yang lebih sehat. Sub-agent tetap penting, tapi idealnya sebagai alat bantu terarah, bukan pola utama.